UPT BALAI PENYULUHAN GONDANGLEGI

Sunu (Kepala UPT)
Suwandi (PPL)
Sri Gustini (PPL)
Murnisari (PPL)
Sukandar (PPL)
Slamet Supriyono (THL-TBPP)
Syahrur Rusli (THL-TBPP)
Reni Krisnanti (THL-TBPP)
Dian Laili Novitasari (THL-TBPP)
Sri Rahayu (THL-TBPP)
Ngatemo (POPT)
Supriyadi (PTP2)

Minggu, 27 Januari 2013

Jumat, 16 September 2011

Bintek Pembuatan Jamur Krispi UPT BP Gondanglegi

Bertempat di Kantor Desa Panggungrejo Kec. Gondanglegi, telah dilaksanakan bimbingan teknis pembuatan jamur krispi yang dipandu oleh Agus Nugroho Dewo, SP., MT dan Ir. Diana Andriyani dari Sub Bidang Konsumsi dan Penganekaragaman Pangan BKP3 Kab. Malang. Kegiatan yang dihadiri oleh ibu-ibu PKK sekecamatan Gondanglegi dan seluruh PPL ini diawali dengan sambutan oleh wakil ketua TP PKK Kec. Gondanglegi, dan dilanjutkan dengan praktek pembuatan jamur krispi yang disampaikan oleh tim dari BKP3 Kab. Malang.

Rabu, 03 Agustus 2011

Bintek Budidaya padi metode SRI

(Rabu, 20 Juli 2011). Dalam rangka Bimbingan Teknis (Bintek) bulan juli kali ini UPT Balai Penyuluhan Kecamatan Gondanglegi melaksanakan bintek pada pertemuan kelompok tani Sri Rejeki Desa Sukorejo Gondanglegi. Berada di Areal persawahan yang luas, di tengah terik matahari tak menyurutkan minat para petani untuk mengikuti kegiatan ini. Pertemuan Kelompok Tani yang dilaksanakan tiap bulan ini akan membahas dan berdialog khusus tentang persemaian padi. Hal ini cocok dengan kondisi areal persawahan mereka yang sedang persiapan persemaian padi. Acara ini dimulai pukul 09.00 WIB dengan diawali sambutan pertama oleh Kepala UPT Balai Penyuluhan Gondanglegi selaku PPL wilbin Bapak Sunu SP, selanjutnya materi disampaikan oleh Bapak Saikoni, SP. dari Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) Kabupaten Malang. Antusias 50 hadirin yang terdiri dari unsur Petani,PPL, THL TBPP, POPT, PTP2, Perangkat Desa dan Tokoh Masyarakat Desa Sukorejo yang tampak kentara dalam dialog dengan narasumber. Bapak Saikoni dalam keterangannya menjelaskan bahwa praktek budidaya padi sistem SRI (System of Rice Intensification) menawarkan pengelolaan tanaman yang hemat benih, air,dan tenaga kerja sehingga pada nantinya biaya budidaya dapat menurun sehingga produktivitas meningkat tanpa mempengaruhi kualitas. Justru dengan budidaya padi sistem SRI didapatkan kualitas tanaman padi yang sehat, terhindar dari serangan hama dan penyakit, potensi anakan lebih banyak dan mendorong tumbuhnya malai produktif. Dengan benih 7,5 kg/ha dimana 1 bibit 1 lubang akan menambah efisiensi penghematan benih tersendiri dibanding secara konvensional yang biasanya 40 kg/ha. Untuk pengelolaan air juga lebih hemat karena tanaman padi disarankan untuk macak-macak saja. "Pantas saja SRI sering diplesetkan dengan kepanjangan Sistem Rodo Irit" terang Bapak Syahroni petani Desa Sukorejo yang juga tokoh masyarakat "Budidaya padi sistem SRI sebenarnya sudah lama diterapkan di Areal persawahan pertanian Desa Sukorejo", terang Bapak Abdul Wahid selaku Kelompok Tani Sri Rejeki Desa Sukorejo. Sosialisasi maupun dem plot telah dilakukan oleh para penyuluh, THL TBPP, PTP2 dan POPT dari Kecamatan Gondanglegi, namun perlu kesabaran dalam membimbing para petani. Mereka (petani) sudah mengakui akan produktivitas sawah mereka yang kian meningkat pada budidaya padi SRI karena kualitas padinya juga sehat, tetapi kenyataannya dilapangan sebagian besar petani masih menanam padi secara konvensional. Wah ini adalah tantangan bagi para punggawa Pertanian diwilayah Kecamatan Gondanglegi. Budidaya padi SRI adopsi yang diterima petani masih ada kendala dibeberapa hal, terang salah satu petani pada saat dialog tersebut, mereka mengatakan bahwa SRI tidak begitu diadopsi petani karena tenaga kerja dilapangan yang ada sistim borongan dalam hal tanam, jadi karena tanam SRI belum begitu mahir hasilnya lamban, melainkan tenaga kerja minta naik perongkosannya. Disamping itu adanya sistim penggarap sawah, yaitu lahan bukan milik sendiri, melainkan petani penggarap yang membiayai pekerjaan disawah, jadi petani penggarap masih merasa biayanya bertambah. Dengan kesabaran dalam pembinaan ke petani para penyuluh pertanian merubah keterampilan petani secara bertahap dengan sistem semi SRI dan SL-PTT. Senada dengan Ketua Gapoktan Tani Jaya Desa Sukorejo, Bapak Mochammad Huri yang menjelaskan bahwa pelaksanaan pertemuan kelompok tani Sri rejeki yang rutin dilaksanakan selalu mendapat antusias dari petani dengan terus meningkatnya jumlah petani yang hadir dalam pertemuan, karena petani-petani tersebut berharap akan mendapatkan ilmu yang dapat diaplikasikan. Ditambahkan pula oleh Bapak Jari yang menerangkan bahwa semenjak adanya sosialisasi SRI dari para penyuluh pertanian Kecamatan Gondanglegi kini banyak petani Desa Sukorejo dan wilayah lain yang membeli pupuk bokashi dagangan miliknya. Beliau percaya bahwa pupuk bokashi miliknya dapat bersahabat dengan alam dibanding pupuk kimia dari pabrik dimana hal ini sesuai dengan konsep SRI akan anjuran dari SRI pupuk kimia, SRI semi organik dan kian lama beralih ke SRI organik sehingga perlahan-lahan kebutuhan pupuk kimia dapat dikurangi dan pupuk organik diperbanyak yang pada akhirnya ketergantungan akan pupuk dan pestisida kimia tidak ada. Hal ini merupakan upaya kemandirian petani Desa Sukorejo terhadap ketergantungan pupuk. (Dian Laili, Syahrur Rusli dan Slamet Supriyono)

Kamis, 12 Mei 2011

Kunjungan Lapang Biogas Pemprov Bali

Kunjungan Pemerintah Provinsi Bali yang terdiri dari Badan lingkungan Hidup, Bappeda dan Dinas Pekerjaan Umum, ke anggota Gapoktan "Sejahtera" Ibu Ribut Husniah. Kunjungan ini merupakan studi banding terhadap pemanfaatan limbah ternak untuk biogas di daerah Gondanglegi.

Rabu, 11 Mei 2011

Pertemuan Lapang Kelompok Tani Sri Rejeki I Desa Sukorejo

Dem Pupuk Petroganik

Dem penggunaan pupuk petroganik yang dilakukan oleh kelompok tani Sri Rejeki I Desa Sukorejo Kec. Gondanglegi. Pendampingan teknis budidaya oleh Penyuluh Pertanian UPT Balai Penyuluhan Kec. Gondanglegi dan distributor PT. Petro Kimia Gresik

Senin, 09 Mei 2011

Pertemuan THL-TBPP Kabupaten Malang

Kepala BKP3 Bapak Ir. Muhamad Nasri memberikan pengarahan kepada THL-TBPP Kabupaten Malang yang berjumlah 109 orang, agar THL memahami dan melaksakan tupoksi serta menguasai IT untuk mendukung program cyber extension BKP3

Lomba Kelompok Pembudidaya Ikan Lele

Pada tanggal 29 April 2011 di Desa Sepanjang Kec. Gondanglegi dilaksanakan penilaian lomba pokdakan lele "Raja Mina" oleh tim dari Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Jawa timur

Minggu, 06 Desember 2009

Pengumuman bagi THL-TBPP angkatan 2007

PENGUMUMAN BAGI THL-TBPP ANGKATAN I Nomor:98/SM.610/J/12/2009 Sehubungan dengan pengumuman kami terdahulu tanggal 30 Oktober 2009, dengan ini kami beritahukan perubahan kebijakan penanganan THL-TB Penyuluh Pertanian Angkatan I Tahun 2007 sebagai berikut: 1. Kontrak kerja THL-TBPP angkatan I tahun 2007 yang semula tidak akan dilanjutkan pada tahun 2010, sesuai hasil rapat kerja Menteri Pertanian dengan Komisi IV DPR RI pada tanggal 16 November 2009, kontrak kerja THL-TBPP angkatan I akan diperbaharui pada tahun 2010. 2. Mengingat untuk pembaharuan kontrak kerja THL-TBPP diperlukan realokasi anggaran kegiatan Penggerak Membangun Desa (PMD) dan untuk itu diperlukan proses revisi DIPA Departemen Pertanian tahun 2010, maka diperkirakan pembaharuan kontrak kerja THL-TBPP angkatan I dan pembayaran honor serta biaya operasionalnya baru bisa dilaksanakan setelah DIPA revisi TA. 2010 diterbitkan yaitu sekitar bulan April 2010. 3. Pembaharuan kontrak kerja THL-TBPP angkatan I hanya akan dilakukan bagi mereka yang memiliki kinerja baik sesuai hasil evaluasi mandiri dan hasil evaluasi Pimpinan Kelembagaan Penyuluhan Pertanian Kabupaten/Kota. 4. Berdasarkan hal tersebut di atas kami mengharapkan Saudara untuk melakukan Evaluasi Mandiri sesuai format terlampir dan setelah diisi menyerahkannya kepada Pimpinan Kelembagaan Penyuluhan Kabupaten/Kota di tempat Saudara bertugas paling lambat akhir minggu ketiga bulan Desember 2009 untuk diproses lebih lanjut. 5. Dengan berubahnya kebijakan pembaharuan kontrak kerja THL-TB PP angkatan I ini, maka program PMD dan Magang Luar Negeri bagi THL-TBPP ditiadakan. Untuk itu, Saudara agar segera menghubungi Pimpinan Kelembagaan Penyuluhan Kabupaten/Kota tempat Saudara bertugas. Demikian agar diketahui dan menjadi maklum. Jakarta, 4 Desember 2009 Kepala Badan, Ttd. DR. Ir. ATO SUPRAPTO, MS NIP. 19520202197901001

Jumat, 29 Mei 2009

MENEPIS PANDANGAN KEUNTUNGAN MENUJU PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN

Cermatilah perilaku usaha tani kita saat ini, dimana petani kita sedang terlena akan kemajuan teknologi yang menyajikan sarana produksi serba Anorganik atau kimia dan mampu memberikan dampak peningkatan produksi. Petani kita saat ini sebagin besar berpandangan bahwa di lahan usahatani yang ada hanyalah tanaman budidaya saja, sedangkan Organisme lain, seperti hama adalah musuh yang harus dimusnahkan dan diberantas, oleh karena itu pestisida kimia yang berkuasa untuk membunuh dan memusnahkan. Disamping itu petani juga berpandangan bahwa penggunaan pupuk kimia yang berlebih akan memberikan produksi tinggi.

Teknik usahatani yang di terapkan petani saat ini sering mengandalkan penggunaan sarana produksi Anorganik atau kimia yang berlebih dan kurang bijaksana, yang diyakininya serba instant, cepat dan mampu memberikan hasil tinggi. Adapun akibat dari penggunaan sarana produksi kimia atau Anorganik yang kurang bijaksana akan merusak keseimbangan alam.

Penggunaan sarana produksi kimia atau Anorganik yang berlebihan ternyata tidak selalu bisa mengentaskan masalah untuk mencapai produksi tinggi, melainkan akan memberikan masalah - masalah baru, misalnya pengunaan pestisida kimia akan membuat hama kebal, peledakan hama yang tiba – tiba ( resurgensi ), pencemaran lingkungan, terbunuhnya jasad bukan sasaran sehingga mengurangi keragaman unsur hayati, terbunuhnya musuh alami dan yang paling parah juga akan mempengaruhi terhadap ganguan kesehatan manusia sendiri. Pengunaan pupuk Anorganik memang memiliki kandungan unsur hara yang tinggi, kemampuan higroskopisnya tinggi, sehingga cenderung mudah larut dalam air dan pupuk Anorganik berkecenderungan menyebabkan tanah menjadi masam. Penggunaan pupuk Anorganik yang berlebih dan terus menerus tanpa di imbangi dengan pemberian bahan Organik dalam tanah maka tanah akan menjadi masam, dengan tanah yang masam akan membuat tanaman sulit mengambil makananya dari dalam tanah, sehingga produksi tanaman tidak akan optimal atau bisa bisa malah menurun.

Berpandangan diatas maka keuntungan yang diperoleh petani hanyalah sesaat saja dan tida berkelanjutan, karana semakin lama biaya usaha tani akan mahal dan tinggi sebagai akibat mahalnya sarana produksi, sedangkan produksi bisa–bisa stagnan atau malah merosot karena rusaknya agroekosistem yang ada. Dari hal tersebut menunjukan bahwa di agroekosistem itu merupakan satu system yang dinamis dan dapat dikelola. Berangkat dari pemahaman ini maka cara pengelolaan usahatani dilakukan dengan memanfatkan potensi yang ada, dengan demikian tidak perlu banyak – banyak masukan dari luar, jadi tidak perlu terlalu mengandalkan pemakaian sarana produksi kimia yang berlebih.

Mengatasi kompleksnya persoalan usaha tani saat ini diantaranya menurunya kesehatan tanah dan mandegnya produksi mungkin sudah saatnya perlu kita renungkan apa yang harus kita perbuat. Disalah satu sisi usahatani kita dituntut berproduksi tinggi untuk keseimbangan kebutuhan dan keuntungan, dan disisi lain usahatani kita dituntut menghasilkan produk bermutu yang ramah lingkungan, maka sudah saatnya kita berusahatani secara Pertanian Ramah Lingkungan.

Pertanian Ramah Lingkungan dalam pelaksanaan ada beberapa system budidaya yang digalakkan yaitu diantaranya, Good Agriculture Practice (GAP), Integrated Pest Management (IPM), Organic Farming (OF), System Of Rice Intensification (SRI) dan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Dari semua ini memiliki ciri suatu system budidaya tanaman yang dilaksanakan dengan baik dan benar sehingga menghasilkan produktivitas tanaman tinggi, mutu produk yang baik dan keuntungan optimum, serta memperhatikan aspek keamanan, kesejahteraan petani serta usaha produksi yang berkelanjutan.

Pencapaian atau penyadaran akan bertani secara Pertanian Ramah Lingkungan memberikan nilai keuntungan yang berkelanjutan dan bukanlah suatu usahatani yang untung sesaat saja, maka dibutuhkan peran dari Pemerintah maupun swasta agar lebih mengenalkan sarana produksi serba organic yang mudah, terjangkau dan tersedia, juga tehnologi tehnologi organic yang mampu bersaing dalam pencapaian produksi tinggi. Disamping itu juga penyaluran atau penghargaan terhadap hasil pertanian ramah lingkungan dengan adanya payung, pengayoman yang istimewa berupa pasar, harga yang baik sehingga para pelaku usaha akan tertarik dan benar benar melaksanakan usaha yang ramah lingkungan. Sudah saatnya kita bangkit dan mulai membudayakan Pertanian Ramah Lingkungan demi keberlangsungan kehidupan dan alam yang selaras, seimbang dan berkesinambungan.

Rabu, 29 April 2009

SRI (System of Rice Intensification)

Mengapa harus melakukan SRI Gagasan mengembangkan SRI di dasarkan kepada beberapa hal, diantaranya : o Keberadaan prilaku manusia terutama petani lebih khusus petani pengelola agroekosistem padi sawah yang keseharianya berhubungan langsung dengan lahan sawah. o Sebagai proses pembelajaran yang lebih mengarahkan pengaruh air yang berlebihan / mengggenang kondisi sawah dalam jangka waktu yang lebih lama dan kedalaman yang tinggi terhadap beberapa unsur ekosistem ( sifat tanah, aliran energi dan siklus nutrisi) o Sebagai bahan evaluasi hubungan timbal balik antara manusia dengan alam khususnya komponen tanah, bahwa tanah telah banyak memberikan segalanya untuk kehidupan manusia, tapi sebaliknya apa yang yang telah manusia berikan untuk memperhatikan tanah baik kelestarian , kualitas bahkan pengelolaan yang lebih baik terhadap komponen unsur ekosistem tersebut. o Sebagai bahan kajian tentang pengaruh hasil pengelolaan tanah terhadap akar tanaman padi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tunas, malai, bulir dan kebernasannya. Apa Akibat Penggenangan Air Pada Lahan Ekosistem Padi Sawah ? Sebagai suatu sistem yang hidup tanah mempunyai fungsi dan peranan dalam mendukung tumbuhnya tanaman, komponen dalam tanah seperti Mikro Organisme (MO), cacing, serangga atau binatang lain seperti plankton, chiro adalah identik dengan karyawan petani yang berada di dalam tanah, karena komponen tersebut bekerja setiap saat sepanjang masa selama lahan tersebut difungsikan sebagai sawah, mereka bekerja menggemburkan dan menyuburkan tanah dengan kata lain memperbaiki struktur tanah, mereka bekerja sekaligus membuat agar tanah tersebut mampu menahan air, dan mereka pun berusaha membuat bahan-bahan mentah menjadi nutrisi yang siap dimakan tanaman khususnya padi. Namun demikian bila terjadi penggenangan pada lahan tersebut apa yang akan terjadi dengan kehidupan serta dengan fungsi dan peranan karyawan-karyawan tersebut? dan Apa yang akan terjadi pula dengan keberadaan mereka di bumi atau di habitatnya ? Penggenangan khususnya pada tanaman padi berakibat rusaknya dan hancurnya bahkan matinya jaringan kompleks ( cortek, xylem dam phloem) pada akar tanaman padi, hal ini akan berpengaruh kepada aktivitas akar dalam mengambil nutrisi di dalam tanah lebih sedikit dengan bantuan jaringan sederhana sebagai jaringan cadangan yakni jaringan “Aerenchyma” sebagai pengganti fungsi jaringan kompleks, namun berbeda dalam pengambilan jumlah nutrisi yang jauh lebih keci l/ sedikit, sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman agak terhambat dan berakibat kepada kemampuan kapasitas produksi yang akan lebih rendah. Apa itu SRI ? Sejalan dengan gagasan dan akibat yang telah ditimbulkan dari penggenangan air di lahan padi sawah, maka budi daya padi SRI diartikan sebagai upaya budidaya tanaman padi yang memperhatikan semua komponen yang ada di ekosistem ( Tanah, Tanaman, Mikro Organisme dan Makro Organisma, Udara, Sinar matahari dan tentunya air ) sehingga memberikan produktivitas yang tinggi/optimal/sinergis, menghindari berbagai pengaruh negative bagi kehidupan komponen tersebut atau menghindari berbagai kerusakannya dan memperkuat dukungan untuk terjadinya aliran energi dan siklus nutrisi secara alami. Bagaimana Cara mengetahui, Mengerti dan Memahami SRI ? SRI merupakan sistem produksi pertanian yang holistic dan terpadu, dengan mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agroekosistem secara alami, sehingga mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup berkualitas berkelanjutan, sehubungan dengan preferensi seperti itu maka model pertanian hemat air khususnya pada tanaman padi adalah salah satu pilihan untuk dibangun dan dikembangkan, selain itu juga penggunaan air yang hemat dalam berbagai hal merupakan salah satu langkah dalam mengantisifasi kekurangan, krisis air bahkan kesulitan air. Hal ini dirasakan oleh beberapa daerah di propinsi Jawa Barat. Praktek pertanian yang tidak berkelanjutan menganggap tanah sebagai mesin produksi dan tidak memperlakukan tanah sebagai sistem yang hidup serta mengabaikan fungsi dan peranan bahan organik tanah. Disamping itu, upaya peningkatan produksi dan takut kehilangan hasil sekecil apapun, membuat pelaku pertanian seolah sebagai penguasa lingkungan. Tiga kondisi yang merupakan ongkos mahal yang harus dibayar sebagai akibat sistem pertanian yang dikembangkan selama 50 tahun terakhir adalah : 1. Kerapuhan Alam Pertanian Kerapuhan alam pertanian ditunjukan dengan menurunnya kualitas tanah. Tanah merupakan faktor utama dalam membentuk kondisi lingkuingan pertanian(agro ekosistem), karena tanah merupakan sumbner nutrisi yang mengalir pada semua komponen hidup, dan di dalam tanah terjadi proses perputaran kembali nutrisi tersebut. Dalam hal ini peranan Bahan Organik tanah sangat besar sebagai penyedia dan nutrisi biota. 2. Ketergantungan Pangan Ketergantungan pangan dari luar negeri yang cukup besar akan melemahkan ketahanan pangan nasional, yang gilirannya akan berakibat tidak stabilnya situasi sosial dan ekonomui yang mutlak diperlukan pembangunan ekonomi. Kerawanan pangan sebenarnya tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sesaat (saat ini saja). 3. Bertani yang terjajah Sikap dan prilaku petani dalam bercocok tanam berubah secara drastis. Ciri petani yang dekat dan akrab dengan alam sudah tidak tampak, meskipun beberapa nilai pedesaan masih mereka jalankan. Warisan ilmu titen kebiasaan membaca dan menanggapi perubahan alam serta dalam keterbatasan mampu memamfaatkan potensi alam, hanya menjadi cerita di waktu senggang. Ada tiga kondisi petani yang dapat dipakai sebagai ukuran pola bertani yang terjajah : a. Ketergantungan dengan pihak luar dalam bertani, mulai dari perencanaan sampai memasarkan hasil. b. Menjunjung tinggi nilai efektivitas ( produksi tinggi meskipun dengan masukan yang tinggi pula) c. Target utama meningkatkan produksi untuk keuntungan dan kebanggaan sesaat, meskipun harus membayar mahal ongkos lingkungan dan sosial. Apa langkah- langkah dan proses melaksanakan SRI ? Agar tujuan SRI tercapai, maka ada beberapa langkah yang harus dilakukan, diantaranya : a. Mengetahui, mengerti dan memahami Permbelajaran Ekologi Tanah (PET), PET merupakan penguatan dari proses belajar pertanian dengan pendekatan ekologis (lingkungan) diartikan sebagai praktek-praktek usaha tani yang berusaha meningkatkan kualitas lingkungan atau tidak merugikan lingkungan dan beruisaha untuk membatasi dan menekan penggunaan masukan bahan kimia sintetis. Pertanian ekologis tidak hanya memikirkan kelestarian lingkungan saja, tetapi juga tidak memandang peningkatan produksi yang tinggi menjadi tujuan utama berusaha tani. Nilai-nilai keberlanjutan dan pertimbangan-pertimbangan yang jauh kedepan menjadi jiwanya pertanian ekologis (Hukum pengembalian, kearifan tradisional/lokal, dan bertani yang sepandan). b. Mengetahui, mengerti dan memahami masalah-masalah usaha tani padi sawah terutama yang berhubungan dengan pengaruh penggenangan air pada tanaman padi. c. Memahami proses dekomposisi di alam terutama yang berhubungan dengan hancurnya bahan organik secara alamiah, sehingga pemaknaan dari proses tersebut dapat menambah bangunan pikiran untuk pengembangan dalam memperkuat terjadinya proses dekomposisi di alam selain bisa mempercepat juga mempertahankan agar proses tersebut memperkuat kondisi ekosistem di lahan sawah. Hal ini erat kaitannya dengan proses biologi , dimana mikro organisme sebagi pelaku utama penghancuran bahan organik perlu mendapat dukungan agar produktivitasnya optimal dan tetap berkelanjutan. Bagaimana Menerapkan SRI di Lahan ? Dasar pengembangan bertanam padi SRI sebagai suatu sistem produksi pertanian yang holistic dan terpadu, dengan mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agroekosistem secara alami, sehingga mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup berkualitas dan berkelanjutan, maka dengan demikian ada beberapa prinsip dasar yang perlu dilakukan diantaranya : 1. Tanah Sehat Pengembalian sisa tanaman mutlak menjadi kewajiban dan penambahan bahan organik ke lahan diperlukan untuk mengganti bahan-bahan yang telah kita makan. Hal ini diperlukan untuk menjaga kestabilan tanah baik menjaga sifat– sifat tanah atau lebih mengupayakan kesehatan dan produktivitas agro ekosistem, penambahan bahan organik di luar jerami antara 5- 7 ton per Ha. Model pertanian seperti ini banyak dipandang kurang efisien atau mahal, memang benar ! kalau caranya terus membeli dari tempat yang jauh, namun untuk memecahkan permasalahan tersebut diperlukan pemikiran yang lebih arif, salah satu pikiran tersebut adalah : Mengumpulkan bahan organik dengan cara menyicil tiap hari, kalau diperlukan 5 ton bahan organik dibagi 5 bulan( satu musim tanam) berarti tiap satu bulan harus mengumpulkan 1000 kg, satu bulan 4 minggu, 1000 dibagi 4 minggu = 250 kg/minggu. Untuk pengumpulan per hari 250 kg dibagi 7 hari = 35,7 kg./ hari. Sehingga untuk luas 1 Ha sawah diperlukan pengumpulan bahan organik sebanyak 35,7 kg setiap hari, caranya di belakang /dipinggir rumah dibuatkan tempat sampah organik yang harus terpisah dengan sampah plastik , inilah unit bank Organik yang berisi tabungan bahan organik, bisa sampah dari sisa-sisa tanaman, limbah dapur, kotoran hewan, hijauan, kompos, limbah industri berupa organik dan bahan lainnya yang bisa terdekomposisi. Bila tabungan bahan organik penuh di Bank unit, perlu mendirikan Bank organik cabang di sawah, caranya di sudut sawah sisakan 3m x 3m, akan lebih baik jika terlindung dari sinar matahari dan air hujan. Setiap satu minggu sebanyak 250 kg bahan organik bisa disetorkan ke bank cabang yang ada di sawah, hal ini dibuat kompos untuk kualitas bahan organik lebih baik, maka masalah tentang persediaan bahan organik akan terpecahkan, nilai ketergantungan terhadap pihak luar dapat dikurangi selain lingkungan bersih, sehat dan yang lebih bermanfaat adalah cara hidup yang maslahat. Fungsi dan peranan bahan organik selain memperbaiki sifat fisik tanah yaitu mampu mengikat air, mempertahankan air menahan air di dalam tanah, memperlancar aerasi tanah, memudahkan air meresap dari permukaan tanah dan dapat memadukan tanah dengan bahan mineral lainnya, juga mendukung kehidupan mikro dan makro organisme tanah, sehingga aliran energi/siklus nutrisi lebih mantap, sejalan dengan hal tersebut nutrisi bagi tanaman akan tersedia bagi tanaman ( Air, udara, bahan mineral, bahan organik). Sehingga tanah sehat bagi tanaman akan dapat kita ciptakan, sebagai gambaran tanah sehat dapat digambarkan bahwa bahan mineral (pasir, debu dan liat) sebesar 45 %, Air dan udara tanah masing-masing 25 %, dan kandunga bahan organik sebesar 5 %, bila tekstur liat 7 % namun bila bertekstur pasir 5 % kandungan bahan organik. Masukan bahan organik pada pengolahan tanah ke kedua, dimana airnya tidak mengalir pada petakan lain, bila mengalir atur agar tidak membuang bahan organik yanag ada dipetakan, biarkan tanah dalan kondisi lembab/tidak tergenang selama 7 sampai dengan 10 hari sambil menunggu pesemaian siap ditanam. 2. Pemilihan Benih Benih yang akan disemaikan diharapkan tumbuh baik semua, selain dinantikan selama 4 bulan bisa menghasilkan juga tidak terlalu repot harus menyulam. Untuk lebih sesuai dengan harapan maka sebaiknya benih di uji dulu sebelum ditabur di pesemaian. Salah satu cara menguji benih : menggunakan indicator telur mentah pada larutan garam(Berat Jenis larutan lebih berat dari pada gabah/telur), sehingga pada larutan garam tersebut keadaan telur (telur ayam/bebek) dalam posisi terapung yang semula pada air tawar tenggelam dan masukan benih pada larutan garam tersebut, ambil benih yang tenggelam dan cuci dengan air tawar, selanjutnya benih siap disemai. 3. Kebutuhan Benih dan Menyemai Benih Benih yang dibutuhkan dengan cara seperti ini 5 – 7 Kg dalam setiap Ha, sedangkan benih padi disemaikan pada media tanah gembur, baik tekstur maupun struktur memberi kenyaman hidup perakaran yang lebih kondusif, ada beberapa cara untuk mendapatkan benih tersebut yaitu : bila dilakukan di sawah digunakan alas plastik guna menahan akar tidak tembus pada tanah sawah sehingga akan menyulitkan pada saat benih ditanamkan selain akan merusak bagian perakaran. Campurkan kompos jadi dengan tanah kering setebal 4 cm yang butiran tanahnya tidak terlalu besar, komposisi masing-masing 1 : 1, bisa digunakan tanah bawah dari tempat sampah (tidak usah dicampur), bisa dilakukan dengan nampan plastik, besek (pipiti) atau media lain caranya sama, taburkan benih dengan merata tutup dengan jerami dan basahi/ siram hingga tanah lembab(tidak tergenang), benih sebelum disemai bisa direndam selama semalam untuk merangsang kecambah atau bisa langsung ditebar pada media semai., pemeliharaan hanya menjaga air jangan kering, buka jerami tutup setelah benih tumbuh kecambah, sirami pesemaian agar tetap lembab, benih ditanamkan berumur 7 hari, dihitung tumbuh dari kecambah. 4. Model Tanam SRI Petakan sudah dibuat parit /saluran dibagian sekeliling pinggir, atau bila petakan besar buat parit dibagian tengah untuk mengalirnya air /tempat menggenang air, sedangkan bagian tengah air sudah terikat oleh bahan organik, tanah kondisinya akan lembab, buat caplakan/garitan ukuran jarak tanam, jarak tanam minimal 27 x 27 cm, bisa juga 30 x 30 cm atau 35 x 35 cm, tergantung maksud dan studi. Diharapkan kedalaman tanah lapisan olah berkisar antara 25 hingga 30 cm, agar kondisi perakaran jauh lebih baik dan pergerakannya lebih mantap dalam pengambilan nutrisi. Jarak tanam lebar dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada tanaman, terutama pada pembentukan anakan, pertumbuhan akar dan jalannya sinar matahari untuk masuk lebih mantap. Benih ditanam Tunggal / satu tunas, dengan alasan agar tumbuh anakan lebih banyak dan tumbuh kokoh, besar dan yang paling penting menjaga dan memperkuat akar lebih lancer dalam mengambil nutrisi, selain menjaga kondisi tanah terhindar dari asam atau tidak terjadi PH rendah. Bila Tanaman padi di tanam lebih dari lima tunas akan menyebabkan tanah mudah atau merespons tanah menjadi asam, hal ini akan terjadi ketika tanaman mengambil nutrisi dari tanah, ketika bertukar dari akar keluar H plus , dimana akarnya mendominasi sekitar pertanaman sehingga nutrisi yang akan masuk /terhalang H plus, hal ini akan berakibat asam konstan. Benih berumur 7 hari, benih muda ini diharapkan bisa tumbuh tunas lebih awal dan akan banyak tumbuh tunas primer sebagai tunas produktif, selain itu pembentukannya akan lebih cepat. Cabut benih dari pesemaian langsung tanamkan, dari cabut ke tanam tidak lebih dari 15 menit, hal ini dilakukan untuk menjaga aktivitas proses membangun energi dan penumbuhan nutrisi di dalam tanaman agar tidak terhenti. Bulir dalam benih tetap dipertahankan. Kondisi akar horizontal sehingga membentuk hurup L, hal ini diharapkan akar tanaman langung tumbuh dan nutrisi pada bulir tetap efektif digunakan untuk pertumbuhan tanaman tersebut. Ketika benih ditanam membentuk hurup U atau kail akan berpengaruh pada tanaman tumbuh terhambat, akar busuk atau hancur, karena pada saat akar tumbuh harus membutuhkan energi untuk meluruskan akar yang melengkung tadi untuk lurus kepinggir seperti huru L, dalam kondisi baru tumbuh akar sulit mendapatkan nutrisi tersebut akhirnya terjadi pembusukan dan sebagian hancur akar tersebut. Benih ditanam dangkal antara 0,5 - 1 cm, hingga bagian bulir terbenam, hindari air jangan sampai menggenang, cukup basah/lembab. Sangat beralasan ketika tanaman di tanam dangkal yakni menghindari kematian atau busuk akar , karena kalau ditanam dalam akan terjadi pembusukan akar pada ruas pertama, sehingga akan terjadi pembentukan ruas-ruas/buku-buku sebagai salah satu cara tanaman padi mempertahankan hidupnya dan ini akan berakibat lambatnya pertumbuhan anakan, selain kecil dan menghambat pertumbuhannya. Pembentukan ruas/buku pada tanaman muda yang ditanam akan menentukan jumlah anakan dan produktivitas tanaman. 5. Pemeliharaan Pada Tanaman Fase Vegetatif Pemiliharaan tanaman saat fase fegetatif diarahkan kepada beberapa hal yaitu : - Penyulaman tanaman tanaman dilakukan bila ada gangguan serangan belalang,. Benih untuk menyulam adalah benih yang diambil dari benih cadangan yang secara sengaja ditaroh berjejer satu-satu dipinggir petakan. - Penyiangan/ngarambet dilakukan setelah tanaman berumur 7 sampai 10 hari, bisa menggunakan alat garok, tangan atau alat lain yang dapat membantu untuk menghilangkan/membenamkan rumput sekaligus memberi dukungan terhadap kondisi aerasi/ pertukaran dan perputaran uadara agar tetap lancar, hal ini akan memperkuat tumbuhnya perakaran lebih cepat dan sehat sehingga mendukung pertumbuhan tunas awal lebih cepat. Pelaksanaan penyiangan berikutnya dilakukan maksimal setiap 10 hari sekali atau tergantung pada lahan( cepat atau lambatnya tumbuh rumput) sebanyak 4 kali penyiangan, untuk menjaga oksigen sebagai nutrisi yang besarnya kurang lebih 30 % didapatkan oleh tanaman. - Penambahan cairan Mikro Organisme Lokal (MOL) diarahkan kepada baik tanaman atau tanah akan lebih baik, hal ini dimaksudkan untuk menambah unsur yang dibutuhkan tanaman pada saat nutrisi pada tanah sangat terbatas, dilakukan pada tanaman setelah berumur 7- 10 hari, berikutnya dilakukan selang 10 hari sekali, hingga 4-6 kali aplikasi. - Kondisi air tetap dalam keadaan basah/ tidak menggenang, kecuali pada saat mau nyiang atau rambet sebelumnya digenangi, hanya untuk memudahkan penyiangan agar tanah berstruktur. 6. Pemeliharaan Pada Tanaman Fase Generatif Tanaman menjelang umur generatif , yaitu pada anakan maksimal (umur 45- 50 hari) kondisi air dikeringkan, sehingga bagian tanah kering atau bahkan sampai kelihatan agak retak selama 10 hari. Hal ini dimaksudkan pertama : untuk menjaga tunas atau anakan tidak terus menerus tumbuh, menghindari tumbuhnya tunas tidak produktif (sekunder/tersier) kedua menjaga tanaman agar tumbuh tidak terlalu tinggi, berakibat akan menghabiskan nutrisi, sehingga menghambat pembentukan malai dan bulir. Ke tiga menjaga dan mempertahankan agar tunas yang tumbuh dan telah kita pelihara mempunyai kemampuan untuk tumbuh malai dan bulir seluruhnnya. Setelah sepuluh hari dikeringkan, tanah diberi air kembali, sehingga tanah dalam kondisi lembab atau basah, hal ini akan kembali nutrisi akan mengalir dihisap akar dari tanah dibantu oleh air masuk kedalam seluruh bagian tanaman. Melalui proses potosintesa dan proses metabolisme maka tanaman akan lebih cepat merespons semua nutrisi yang sebelumnya lapar. Pemberian MOL akan sangat menentukan pada fase ini Sehingga disarankan untuk kembali ada aplikasi MOL kembali. Kondisi air seminggu sebelum panen, ketika terlihat bulir mulai bernas dan kuning dikeringkan, kemungkinan ini menjaga agar tidak tumbuh tunas tersier sehingga akan mengganggu pemasakan bulir. 7. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman Padi (Hama/Penyakit) Yang dimaksud pengendalian Organisme pengganggu tanaman padi adalah upaya mengendalikan berbagai unsur-unsur ekosistem dalam hal ini di ekosistem padi sawah. Agar tejadi perpaduan yang saling mengisi (sinergis) untuk mendapatkan produktivitas agroekosistem, mengoptimalkan kesehatan lingkungan secara alami yang menguntungkan yang akan memberi dukungan terhadap tumbuhnya tanaman dan keberadaan keanekaragaman hayati lainya, sehingga kehidupan serangga tidak berubah statusnya/kedudukannya menjadi Hama, termasuk cara SRI inipun dimaksudkan sebagai salah satu cara dalam upaya Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman Padi, selain yang utama sebagai salah satu cara mensikapi kekurangan dan krisis air. Pengendalian Organisme yang merusak dan merugikan lainnya dilakukan dengan cara jurus-jurus Pengendalian Hama Terpadu dan tentunya lebih mengutamakan pendekatan secara biologis, serta menghindari praktek-praktek pengendalian yang akan merusak dan menggoncangkan agroekosistem. Penutup RAPUH … itulah kata yang tepat untuk disandingkan dengan tanah dan petani sebagai ungkapan untuk menggambarkan kondisinya saat ini. Kerapuhan alam pertanian ditandai dengan semakin menurunnya kualitas tanah dan semakin meningkatnya kehilangan hasil akibat serangan organisme pengganggu tanaman. Pada akhirnya, kepastian hasil semakin sulit didapatkan apalagi peningkatannya. Disisi lain, kerapuhan posisi petani semakin jelas nampak, seperti terlihat pada sifat ketergantungan mereka dengan fihak lain dalam pengembangan usaha taninya. Budidaya padi SRI melalui Pembelajaran Ekologi Tanah hanyalah gagasan kecil untuk memperbaiki kesalahan di masa lampau. Akan Tetapi apalah artinya sebuah gagasan besar bila tidak pernah diwujudkan. Niat baik ini telah kami gulirkan, dan ternyata dapat menumbuhkan minat, niat dan itikad petani untuk mau belajar.

Sabtu, 25 April 2009

Khasiat tanaman tomat

Likopen Dalam Tomat Mencegah Kanker Prostat dan Kanker Payudara Likopen, zat aktif utama dalam tomat sangat bermanfaat bagi kesehatan, selain itu berfungsi sebagai antioksidan alami, mencegah kanker prostat pada pria tua dan kanker payudara untuk wanita serta menekan terjadinya osteoporosis. Buah tomat (Lycopersicum esculentum Mill) merupakan bagian tanaman yang bisa dimakan dan mengandung biji. Tomat juga mengandung berbagai vitamin (A dan C) dan senyawa anti penyakit yang baik bagi kesehatan terutama likopen, lemak dan kalori dalam jumlah rendah, bebas kolestrol yang merupakan sumber serat dan protein yang baik. Pigmen utama pada tomat adalah likopen dan karoten dimana suhu mempunyai peranan penting pada pembentukan likopen. Jika suhu naik maka likopen akan semakin banyak terbentuk. Selain itu tomat kaya akan beta karoten, kalium dan antioksidan likopen. Satu buah tomat ukuran sedang mengandung hampir setengah batas jumlah kebutuhan harian vitamin C untuk orang dewasa. KANDUNGAN LIKOPEN DALAM TOMAT Likopen adalah bahan alami yang ditemukan dalam jumlah besar pada tomat dan buah-buahan berwarna merah lain seperti semangka, pepaya dan jambu. Likopen merupakan kelompok karotenoid seperti beta karoten yang paling banyak ditemukan dalam makanan. Kandungan likopen dalam tomat sangat dipengaruhi oleh proses pematangan dan perbedaan varietas (misalnya varietas yang berwarna merah mengandung lebih banyak likopen dibandingkan yang berwarna kuning). Likopen berperan sebagai antioksidan dan memiliki pengaruh dalam menurunkan resiko berbagai penyakit kronis termasuk kanker. Kandungan likopen pada tomat meningkat dalam tubuh jika tomat diproses menjadi jus, saus dan lain-lain. Kandungan likopen pasta tomat yang dihasilkan Balai Besar Pertanian juga telah dianalisis dan dibandingkan dengan kandungan likopen pada bahan baku tomat segar. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan likopen dari tomat segar hingga pasta tomat kental. Kandungan likopen per 100 gr dalam tomat segar adalah 4,28 mg, pasta tomat encer 31,09 mg, pasta tomat sedang 50,93 mg dan pasta tomat kental 67,25 mg. MANFAAT LIKOPEN BAGI KESEHATAN Tubuh kita secara alami memiliki serangkaian jaringan antioksidan yang dapat membantu melindungi tubuh. Namun, tubuh tidak dapat memproduksi dalam jumlah yang cukup sehingga memerlukan menu makanan yang kaya buah dan sayuran yang sangat baik sebagai sumber antioksidan, mengandung vitamin E, vitamin C dan berbagai karotenoid seperti beta karoten dan likopen. Kebiasaan mengkonsumsi makanan kaya karoten telah lama dikaitkan dengan berbagai keuntungan bagi kesehatan termasuk kemampuannya untuk melindungi tubuh dari kerusakan oksidatif. Likopen terbukti sebagai antioksidan yang efektif, yang berarti memiliki kemampuan untuk mencegah radikal bebas merusak sel. Sebagai antioksidan, likopen dua kali lebih efektif dibandingkan beta karoten dalam melindungi sel darah putih dari kerusakan membran oleh radikal bebas. Setelah diserap oleh tubuh, likopen disimpan dalam hati, paru-paru, kelenjar prostat, kolon dan kulit. Konsentrasinya pada jaringan dalam tubuh cenderung lebih tinggi daripada karotenoid lainnya. (Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 0878 8160 5773)